Pada awal pandemi COVID-19, kita dikagetkan dengan harga masker medis dan hand sanitizer yang naik berkali-kali lipat.
Mayoritas pihak menghujat para penimbun dua most wanted item tersebut. Tidak punya hati dan sebagainya. Merasa jadi korban dari spekulan. Merasa dirampok terang-terangan oleh spekulan bangsat.
Salahkan teori ekonomi jika anda kesal.
"Semakin langka suatu barang, semakin mahal harganya"
Komoditas pangan gagal panen, harga langsung melambung tinggi. Kendaraan bermotor populer discontinue, spare part-nya langsung gaib harganya. Bahkan harga bekasnya bisa lebih tinggi dari harga barunya.
See?
Ada yang protes dan hujatannya seramai seperti kelangkaan masker medis dan hand sanitizer?
Karena menyangkut kehidupan semua strata sosial (kali ini wabah tidak kenal strata ekonomi, equality before the virus), terutama tenaga medis yang sedang kebanjiran pekerjaan, kasus permainan harga masker medis dan hand sanitizer menjadi atensi semua pihak. Padahal situasi tersebut umum terjadi sehari-hari.
Jika anda salah satu korban yang terpaksa membeli masker medis atau hand sanitizer dengan harga "rampok" coba tengok kebelakang, apakah anda cari penghasilan dengan cara yang sama?
Jika anda mencari penghasilan dengan cara yang jujur, tidak memanfaatkan kesulitan orang lain namun menjadi korban "rampok" dari spekulan masker medis dan hand sanitizer, anekdot menyebalkan di tengah masyarakat ini mungkin cocok buat anda "itu tergantung amal dan ibadah masing-masing"
Biasanya, yang tertawa duluan, menangis belakangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar